Rabu, 30 Mei 2012

Shalawat atas Nabi SAW Oleh : ( Alm ) K.H. Rahmat 'Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)


Shalawat atas Nabi SAW ( Alm ) K.H. Rahmat 'Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)


Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri.
Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.

Selasa, 29 Mei 2012

Ketika Soal SNMPTN Bertasbih

Ketika Soal SNMPTN Bertasbih

Kirim Print
Ilustrasi (dok. Undip).
dakwatuna.com – “Aku mau FKIP B Inggris.”
“Hah??” mereka terkejut.
“Iya.”, jawabku yakin.
“Bukannya, salah satu kakakmu juga ada yang di FKIP, masa’ jadi guru semua.”
“Hmm, Iya tapi aku pilih beda program studinya.”
“Ohh okelah, good luck ya.”
Sejak saat itu, seantero SMA (Lebayy, cuma sekelas kok :p) pada tau kalo aku maunya jadi guru bahasa Inggris, dan sejak saat itulah sebagian besar temanku memanggilku dengan sebutan “Miss”. Panggilan yang juga berupa doa mereka untukku.
***
Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk lulus di FKIP Unsri, usahaku dimulai dari jalur undangan, pilihanku satu-satunya FKIP Unsri Indralaya. Titik. Tapi kenyataannya setelah pengumuman jalur undangan, namaku tidak ada di kolom yang lulus, haduuuh sabarr. Mungkin yang lulus nilainya pada besar-besar semua. (Ya iyalah, masa’ kecil-kecil).
Setelah itu, kukuatkan tekad, aku harus lulus dan aku pasti bisa. FKIP Unsri dengan Passing grade 2,46 (saat itu) pasti bisa kutaklukkan, pokoknya sudah niat pengen jadi guru, sebuah pekerjaan yang mulia serta cocok dengan kodrat sebagai wanita, pikirku waktu itu.
Sayangnya, karena ada sesuatu dan lain hal, aku tidak bisa ikut intensif bimbel seperti teman-temanku yang lainnya. Pada saat mereka berbicara tentang try out (TO) sana-sini, Konsul setiap abis sekolah, aku hanya bisa diam. Untung Kata-kata seorang mbak menguatkanku, “I am What I Think” artinya “Aku adalah apa yang kupikirkan”.
Ya, jika pada saat itu, aku pikir bahwa dengan tidak ikut bimbel aku tidak lulus, maka pasti aku tidak lulus, namun aku berpikir semua sudah ada yang mengatur, Allah sudah mengatur Ajal, jodoh dan rezeki kita, bukankah bisa lulus di perguruan tinggi negeri itu juga merupakan rezeki, maka aku merasa jikalau aku sudah ditakdirkan untuk kuliah di Universitas Sriwijaya, bagaimanapun caranya pasti aku akan kuliah di sana. Begitupun sebaliknya, jika aku tidak ditakdirkan untuk kuliah di universitas Sriwijaya, bagaimanapun caranya seberapa giat aku belajar, pasti aku tidak akan lulus di sana.
Banyak kenyataannya orang-orang yang dalam akademiknya mengagumkan, namun tidak bisa lulus di perguruan tinggi negeri. Semua rahasia Allah.
Yang paling aku ingat ketika H-10 ujian SNMPTN, saat itu aku berujar,
“Pulang ini aku mau transfer uang pendaftaran SNMPTN, biar bisa mulai belajarnya dengan tenang.”
Salah seorang berkata kepadaku seperti ini,
“Ya ampuun, H-10 baru mau belajar, harusnya sudah dari dulu-dulu.”
Dia melihatku sambil menggeleng. “Ckckck”.
Aku sungguh berterima kasih ada seseorang yang berkata seperti ini padaku, kata-katanya memang sakit, tapi kalimat itu kujadikan cambukan untukku.
Pada saat itu hatiku berkata, “Lihatlah kawan, nanti akan aku tunjukkan.”
***
Setelah berusaha belajar dalam sepuluh hari menjelang SNMPTN, tentu aku tidak asal belajar, kususun materi-materi yang harus dipelajari terlebih dahulu setelah itu aku membuat jadwal waktu untuk belajar agar teratur.
Selama itu pula aku terus berdoa pada Allah, agar dimudahkan ujiannya, salah satu doa yang selalu aku panjatkan dalam hatiku adalah doa yang kudapat dari salah seorang Mbak’. Begini doanya:
“Ya Allah, apapun hasilnya nanti, jika itu baik untukku dan untuk agamaku, akan aku terima. Dan semoga aku bisa ikhlas untuk menjalankannya. Aamiin.”
Hari H tiba, aku bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan semuanya, Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah aku meminta padaNya,
“Allah, lancarkanlah semuanya.”
Sampai di sana aku tak menemukan satu pun teman yang satu kelas denganku. Karena memang mayoritas temanku memilih paket IPA atau IPC, hanya aku yang memilih paket IPS, (Ngapain anak IPA milih paket IPS?) yaa, karena memang tujuan aku fokus cuma satu, yaitu FKIP B Inggris. Titik.
Soal pun dibagikan. Hatiku ketar-ketir, takut kalau tidak bisa jawab. Sebelum menjawab soal, terlebih dahulu diarahkan untuk mengisi pilihan jurusan yang ingin dimasuki di LJK. Saat itu aku bingung, tersedia dua kolom, pilihan pertama dan pilihan kedua.
Kalau pilihan pertama FKIP bahasa Inggris, pilihan kedua harus lebih rendah passing grade-nya. Aku berpikir, gimana kalau diubah saja, FKIP b. inggris itu pilihan kedua terus Akuntansi jadi pilihan pertama. Toh, ga mungkin aku masuk di Akuntansi, secara dari temen-temen SMA-ku saja udah banyak dan ga kehitung yang pilih masuk Akuntansi UNSRI.
“Bismillah.”, Aku lalu menjawab apa yang aku bisa dan mengosongkan apa yang aku tidak bisa.
Dan Alhamdulillah aku lulus, Tapi saudara-saudara, tahukah Anda? Aku tidak lulus FKIP B Inggris tapi aku lulus Akuntansi!
Waduuh, ga nyangka bener, jujur aku kecewa tapi keinget doa ini,
“Ya Allah, apapun hasilnya nanti, jika itu baik untukku dan untuk agamaku, akan aku terima.
Dan semoga aku bisa ikhlas untuk menjalankannya. Aamiin.”
Yap, ini yang terbaik. Ternyata memang ini yang terbaik.
Jikalau saat itu, aku tidak ambil pilihan ini, aku tidak mungkin bisa mendapatkan suasana seperti di tempatku kuliah sekarang, Fakultas Ekonomi tercinta, dengan teman-teman yang baik, juga lingkungan yang nyaman untukku.
“Kadang kala, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah, dan apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk di mata Allah, langkah terbaik adalah serahkan semuanya pada Allah.”
Udah Siap? :)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20802/ketika-soal-snmptn-bertasbih/#ixzz1wKJlUTdt

Selasa, 07 Februari 2012

AKU TAK RELA KAU KENAKAN JILBAB TIPIS ITU.....

Islamedia - Hari berbilang berganti bulan, bulanpun berbilang berganti tahun, masih ingatkah kau saudariku 12 tahun yang lalu saat kita masih berseragam putih abu-abu..?

Bersama kita susuri lorong-lorong sekolah dengan segenap semangat, senyum terkembang penuh simpati pada setiap orang…

Sapaan salam senantiasa terurai, jibab tebal lebar terkibar, dan sesekali kita senantiasa merapikan saat angin bersegera menerpa tubuh kita, takut tersingkap lekuk tubuh yang memang sedikit Nampak karena seragam mengharuskan berikat pinggang.

Cukup dinding-dinding kelas dan mushola menjadi saksi keteguhan kita dalam mempejuangkan jilbab syar’ie bahkan ketika peraturan saat itu siswa perempuan harus menampakkan telinga dalam foto ijazahnya…

Tak mudah bagi kita memperjuangkannya saat itu, banyak jam pelajaran terbuang hanya gara-gara diinterogasi pihak sekolah karena tindakan “ngeyel” kita, bergantian dipanggil wakil kepala dan kepala sekolah. Padahal ujian akhir makin dekat

Takjarang kita berjalan dari ujung kelas keujung kelas yang lain, bahkan dengan berurai air mata sekedar menyatukan dan meyakinkan para jilbaber untuk setia dengan jilbab menutup kepala saat berfoto. Meskipun oranglain banyak berbicara miring tentang kita, kita tetap dalam tujuan semula tetap teguh dalam prinsip.

Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar memang, sekarang kita memang tidak bersama tapi aku yakin prinsip kita yang sama itu masih ada. Dan aku sangat yakin itu, aku sangat mengenal sosokmu..

Kita jarang bertemu, taklagi satu halaqoh dalam menuntut ilmu. Entah mengapa sekarang aku jarang melihat jilbab tebal nan lebar itu. Sehingga tak ada lagi beda antara dirimu dengan jilbaber gaul itu. Aku hanya bisa menerka sekiranya bertemu dan bisa bertegur sapa. Tak berhak sedikitpun aku mengatur visi misi hidup dirimu. Namun takbisa membohongi diri ini, ada rasa sedih dan iba apakah gerangan yang telah terjadi dengan saudari seimanku yang dulu pernah duduk satu lingkaran untuk mengkaji ilmu?.

Mungkin engkau akan berargumentasi toh jilbabku bukan nilaiku..!. Duhai ukhti yang aku cintai karena Allah, yang masih saja aku doakan dalam setiap doa rabithahku. Kembali dalam kemuliaan nilai-nilai Islam itu pasti lebih utama dan menenangkan, takusahlah risau karena takbiasa dimata manusia, bukankah kita berharap menjadi luar biasa di Mata Allah dengan amalan terbaik kita?
Entahlah dunia memang makin berubah dan aku tak tahu apa yang telah mengubah pandanganmu itu, mungkin tuntutan profesi, mungkin tuntutan mode, tuntutan ekonomi, atau tuntutan suami?

Padahal telah jelas dan gamblang bagaimana ketentuan jilbab syar’ie itu, Allah sendiri yang berfirman dalam QS Al Ahzab :59 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin:’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. ‘yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  Dan juga dalam QS An Nuur 31 …”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,..”

Perintah Allah itu jelas dan takpernah berubah karena Al Quran itu sesuai dengan perkembangan zaman, meski zaman banyak berubah karena teknologi yang begitu pesat, namun bukan berarti kemudian Al Qur an mengikuti zaman, tetapi zamanlah yang mengikuti Al Quran.

Perintah Allah begitu jelas tak perlu ditawar agar muslimah itu menutupkan kain kudung ke dada, dan tentunya arti dada disini tidak serta merta hanya bagian dada tetapi area selingkaran dengan dada yaitu punggung lengan dan juga dibawahnya, karena perbuatan demikian lebih menutup aurat dan menjaga kemuliaan.

Lantas dengan jilbab yang tipis itu, aku juga semakin takmengerti alas an apalagi, apakah karena dipasaran sudah takada lagi yang menjual kain tebal yang lebih menutup aurat, atau takut dikatakan jilbaber tapi tidak inoveishion , atau lagi-lagi masih saja menggunakan dalil cuaca di bumi makin panas, dan takut kegerahan dengan jilbab yang tebal. Padahal jika dinalar rumah yang kecil dengan rumah yang besar tentu akan terasa panas ketika kita berada dalam rumah yang kecil bukan?. Ketika kita berjilbab masih merasa gerah mungkin ada yang tidak beres dengan model jilbab kita, seperti model rumah tadi. Mungkin terlalu ketat, atau ada ikatan-ikatan yang memang seharusnya takperlu kita pasang sehingga malah membuat gerah.

Tak ada yang salah dengan syari’at Islam, kalaupun kita belum menemukan kebahagiaan dan ketentraman sebagai ummat muslim, mungkin kita belum sampai dalam ilmunya. Dan seharusnyalah kita menuntut ilmu Islam itu lebih keras lagi. Karena kita tahu Islam itu syammil mutakamil, Islam itu sempurna dan menyeluruh. Seluruh aturan hidup itu ada dalam Islam. Karena itu kita harus bahagia dan bangga sebagai ummat Islam. Bentuk kebanggaan kita salah satunya adalah tidak malu menampakkan identitas kita sebagai muslimah. Tidak malu atau setengah-setengah dalam mengimani perintah dan mengenakan  jilbab syar’ie.

Muslimah harus cerdas, begitu juga dalam mengikuti perkembangan mode harus bisa mensiasati dan pandai memilah saat membeli pakaian pun dalam berbisnis pakaian muslimah. Saudariku bukankah telah sampai kepada kita kajian tentang syarat-syarat jilbab syar’ie :
1.                  Menutup seluruh badan selain bagian yang dikecualikan(muka dan telapak tangan)
2.                  Tidak dijadikan perhiasan
3.                  Jilbab itu harus tebal tidak tipis
4.                  Jilbab harus longgar, tidak ketat
5.                  Tidak dibubuhi parfum atau minyak wangi
6.                  Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7.                  Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir
8.                  Tidak berupa pakaian Syuhrah(sensasi) baik itu terlalu mewah karena mahal ataupun terlalu murahan yang dipakai untuk menunjukkan sikap zuhud dan dilakukan atas dasar riya’

Tentu engkau masih ingat saudariku yang aku cintai karena Allah, sebuah hadits yang meriwayatkan “Pada akhir ummatku nanti akan muncul para wanita yang berpakaian namun hakikatnya telanjang. Diatas kepala mereka terdapat sesuatu seperti punuk unta. Laknatlah mereka! Sesungguhnya mereka wanita-wanita terlaknat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma syurga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian (HR Thabrani, dalam al-Mu’jamus Shaghiir(hlm.232), dari hadits ibnu ‘Amr, dengan sanad shahih). Dan juga kisah shahbiyyah bersegera memenuhi perintah Allah tentang berpakaian yang sesuai syari’at. Yaitu seperti wanita-wanita Anshar yang bersegera merobek gorden rumah mereka untuk dijadikan jilbab ketika ayat tentang hijab turun sehingga dikisahkan wanita-wanita Anshar keluar dan seakan-akan di atas kepala mereka bertengger burung gagak hitam karena pakaian yang mereka kenakan.

Saudariku masih ada lagi kisah yang menakjubkan dari kalangan shahabiyyah yang seharusnya kita jadikan teladan. Yaitu riwayat dari Ummu ‘Alqamah bin Abu ‘Alqamah, ia berkata : “Aku melihat Hafshah binti ‘Abdurrahman bin Abu Bakar menemui ‘Aisyah. Ketika itu, Hafshah sedang memakai khimar berbahan tipis sehingga keningnya terlihat. ‘Aisyah lantas merobek khimar itu, seraya berkata : “tahukah kamu apa yang Allah turunkan dalam surat An Nuur? Kemudian, ‘Aisyah minta diambilkan khimar (yang tebal), lalu ia memakaikannya kepada Hafshah.(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (VIII/46), Ibnu Hibban mencantumkannya dalam ats Tsiqaat(V/466)).

Saudariku aku beraharp  keprihatinan hati ini cukup sampai disini dan takkan aku temui lagi keadaan yang membuat diri ini miris dan sedih. Saudariku memang seharusnyalah kita malu kepada Allah, banyak nikmat yang Dia beri kepada kita. Nikmat sehat, tubuh yang lengkap, dan segala kesempurnaan fisik sebagai perempuan, serta banyak nikmat lain yang takkkan pernah habis bila kita menghitungnya. Namun kita sering malas bahkan mengulur waktu dan terus mencari alas an untuk tidak menjalankan perintahNya. Bukankah bentuk dari kesyukuran adalah ibadah dan menjalankan aturan Islam dengan paripurna?. Mungkin kita akan mengatakan toh kita ini berproses? Namun proses harus mempunyai target yang jelas, karena kita tidak tahu sampai kapan jatah hidup kita di dunia.

Saudariku, tentu kita takut ketika rasa malu dalam diiri kita dicabut karena apa dalam hadits dikatakn :"Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, maka dicabutnya rasa malu dari orang itu. Bila sifat malu sudah dicabut darinya, maka ia akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan orang benci padanya. Jika ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut darinya, kamu akan mendapatinya sebagai seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya, maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang terkutuk maka lepaslah tali Islam darinya." (HR Ibnu Majah).

Istiqomah memang tak mudah apalagi tanpa didukung oleh lingkungan, teman-teman dan orang-orang terdekat dari kita. Namun bukan hal yang mustahil bagi kita untuk mengupayakan itu semua. Dengan upaya terus memupuk keimanan kita, senantiasa menuntut ilmu, dan bergaul dengan orang shalih dan shalihah. Yang tak kalah penting adalah Berdoa pada Allah semoga kita senantiasa tetap komitmen dalam jilbab yang syar’ie.
Wallahu A’lam bishawwab

*semoga ini bagian dalam mengamalkan QS Al ‘Ashr(1-3)
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Anindya Sugiyarto